Kapsul Obat



Kapsul Obat

Kapsul berasal dari bahasa latin “capsula” yang artinya wadah kecil. Dalam ilmu farmasi, kapsul merupakan wadah kecil untuk melindungi obat. Kapsul termasuk bentuk sediaan padat yang dapat diisikan obat atau zat kimia yang berbentuk serbuk, granul, pasta, atau cair. Berdasarkan elastisitas dan komponen pembentukannya, kapsul dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu kapsul keras (dua cangkang) dan kapsul lunak (satu cangkang). Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan cangkang kapsul keras dan cangkang kapsul keras dan cangakang kapsul lunak pada umumnya sama yaitu gelatin, air, dan pewarna. Namun yang membedakan adalah bahan tambahan lainnya dan cara pembuatannya. Selain terbuat dari gelatin, kapsul dapat terbuat dari HPMC, PVA, dan Starch (Rabadiya and Rabadiya, 2013).
Cangkang kapsul pada umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang bersifat hidrokoloid. Pada produk pangan, gelatin dapat dimanfaatkan sebagai bahan penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), pengemulsi (emulsifier), dan pembungkus makanan yang bersifat dapat dimakan (edible film). Gelatin juga dimanfaatkan dalam industri non pangan seperti industri pembuatan film dan industri farmasi (seperti produksi kapsul lunak, cangkang kapsul, dan tablet). Sumber bahan baku gelatin dapat berasal dari babi, sapi, dan ikan. Jumlah penggunaan gelatin yang cukup besar diberbagai macam industry menyebabkan kebutuhan akan gelatin nasional semakin meningkat dari tahun ke tahun (Said et al., 2011). Jumlah gelatin terbanyak diproduksi dari kulit babi dan turunannya yakni mencapai (46%), kulit sapi sebanyak (29,4%), tulang sapi sebanyak (23,1%), dan yang berasal dari sumber lain sebanyak (1,5%) yang berupa polipeptida, lemak, dan polisakarida (Karim and Bhat, 2008). Data ini menunjukkan bahwa gelatin yang diekstrak dari babi masih mendominasi pasaran dunia. Dalam skala dunia, 80% obat impor menggunakan cangkang kapsul yang terbuat dari gelatin babi. Cangkang kapsul berbahan baku gelatin babi memiliki harga jual yang lebih murah dibandingkan cangkang kapsul dari gelatin sapi. Perbedaan harga jual bahan baku gelatin inilah yang menjadikan alasan banyaknya produsen obat yang lebih memilih menggunakan cangkang kapsul gelatin babi dibandingkan cangkang kapsul gelatin sapi (Gadri et al., 2012). 
Cangkang kapsul dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu cangkang lunak dan cangkang keras. Komponen utama cangkang tersebut adalah gelatin. Gelatin merupakan protein yang dihasilkan dari proses hidrolisis parsial jaringan kolagen yang dapat diekstraksi dari kulit, jaringan konektif, dan tulang hewan ternak, termasuk ikan dan unggas.  Hewan yang sering digunakan adalah babi, sapi, dan ikan. Campuran tulang dan kulit babi mampu menghasilkan kapsul kualitas terbaik dibanding formula lain. Gelatin tulang babi menghasilkan karakteristik kapsul dengan lapisan film kencang dan tidak mudah rapuh, sedangkan gelatin kulit babi memberikan karakteristik kapsul yang jernih, sehingga formula campuran tersebut menghasilkan kapsul kualitas tinggi (Agrawal, 2007). 
Pembuatan sediaan resmi dilakukan sesuai dengan pembuatan kapsul obat yang baik dengan menggunakan menggunakan komponen yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan mendukung penerapan Farmakope Indonesia.
Standar Kapsul
Uji sifat fisik
Persyaratan
pH
5-7
Waktu hancur
±15 menit
Larut dalam asam
±5 menit
Kadar air (%)
12,5% - 15%
Referensi:
  1. Rabadiya, B. & Rabadiya, P., 2013, Review: Capsule shell material from gelatin to non animal origin material, Int. J. Pharm. Res. BioSci, 2(42-71).
  2. Said, M. I., Triatmojo, S., Erwanto, Y. & Fudholi, A., 2011, Gelatin properties of goat skin produced by calcium hydroxide as curing material, Media Peternakan, 34(3), 184.
  3. Karim, A. A. & Bhat, R., 2008, Gelatin alternatives for the food industry: recent developments, challenges and prospects, Trends in food science & technology, 19(12), 644-656. 
  4. Gadri, R. C., Alhat, B., Chavan, A., Kamble, S. & Sonawane, R., 2012, Land vehicle tracking system using Java on android platform, Computer Engineering and Intelligent Systems, 3(5), 88-94. 
  5. Agrawal, O. P., 2007, Fractional variational calculus in terms of Riesz fractional derivatives, Journal of Physics A: Mathematical and Theoretical, 40(24), 6287. 
  6. Kementrian Kesehatan, R., 2014, Farmakope Indonesia, Edisi V., Kementrian Kesehatan RI., Jakarta.





Comments