Desain alat Microwave (Švarc-Gajic dkk., 2013)
Ekstraksi
adalah pemisahan atau pengambilan satu komponen yang terdapat di dalam suatu
bahan padat atau cairan dengan menggunakan batuan pelarut berdasarkan perbedaan
kelarutan antara pelarut dan zat terlarut, efektivitas suatu proses ekstraksi
juga ditentukan oleh kemurnian pelarut, suhu ekstraksi, metode ekstraksi dan
ukuran partikel-partikel bahan yang diekstraksi. Makin murni suatu pelarut dan
makin lama waktu kontak antara pelarut dengan bahan yang diekstraksi pada suhu
tertentu, maka ekstrak yang dihasilkan makin banyak (Chemat dan Cravotto,
2013). Pemilihan dan
penggunaan metode ekstraksi yang tepat diperlukan agar mendapatkan ekstrak dengan konsentrasi senyawa fenolik yang
tinggi. Pemilihan metode ekstraksi sangat penting dilakukan karena hasil
ekstraksi akan mencerminkan tingkat keberhasilan metode tersebut dalam
mengeluarkan senyawa fenol dari matriks bahan ke dalam pelarut (Salas dkk.,
2010).
Ekstraksi senyawa aktif dari bahan alam telah dilakukan
kebanyakan menggunakan proses konvensional misalnya ekstraksi dengan refluks,
soxhletasi dan maserasi (Widoretno dkk., 2016). Meskipun proses tersebut cukup
efektif, namun proses ekstraksi dengan cara konvesional memerlukan waktu yang
lebih lama (Calinescu dkk., 2001). Teknik
ini menghasilkan hasil ekstraksi rendah dari komponen bioaktif dan memberikan
selektivitas rendah (Laroze dkk., 2008). Untuk mengatasi keterbatasan metode ekstraksi
konvensional ini maka dikembangkan
metode ekstraksi teknik
non-konvensional yang bebas dari pelarut beracun
(Azmir dkk., 2013 dan Michel dkk., 2011). Selain itu,
proses ekstraksi untuk pemisahan senyawa telah dikembangkan untuk mendapatkan
produk yang murni, sehingga berguna dalam berbagai macam aplikasi.
Teknologi ini bisa memberikan pendekatan inovatif untuk meningkatkan produksi
senyawa yang diinginkan. Diantaranya, microwave
assisted extraction (MAE) sebagai alternatif potensial dan kuat untuk
ekstraksi senyawa bioaktif dari bahan alam
(Sanchez-Aldana dkk., 2013).
Menurut beberapa
hasil penelitian, microwave-assisted extraction meningkatkan efisiensi
dan efektifitas ekstraksi bahan aktif berbagai
jenis rempah-rempah, tanaman herbal, dan buah-buahan (Calinescu dkk., 2001). MAE
adalah teknik ekstraksi menggunakan pemanasan microwave dalam sistem ekstraksi
(Gambar 9) (Chan dkk., 2015). Microwave
(MW) merupakan metode
alternatif untuk pemanas konvensional dan metode ini telah banyak digunakan karena
efisiensi pemanasan tinggi dan pengoperasian yang mudah. Keuntungan
dari teknologi berbasis microwave yaitu dapat
membantu pengurangan
proses kebutuhan energi, pengolahan selektif dan kemampuan untuk memulai dan
menghentikan proses terkontrol (Ingole, 2015).
MAE telah
digunakan untuk mengekstrak senyawa aktif dari bahan nabati dan limbah nabati
(Chan dkk., 2015). Microwave
assisted extraction (MAE) atau ekstraksi menggunakan gelombang mikro adalah
kombinasi dari gelombang mikro dan ekstraksi padat-cair konvensional dan
untuk mengekstrak sampel terlarut ke dalam cairan dari berbagai bahan menggunakan
energi gelombang mikro (Delazer dkk., 2012;
Qing dan Dagui, 2009 dan Jain dkk., 2009). Dalam metode ini, gelombang mikro adalah prinsip kerja yang meningkatkan
kinetika reaksi dengan memanaskan matriks pelarut dan sampel, sehingga meningkatkan kemampuan ekstraksi pelarut (Delazer dkk., 2012).
Gelombang mikro mengurangi aktivitas
enzimatis yang
merusak senyawa
target sehingga
pemanasan dengan
MAE memiliki kelebihan pemanasan
yang lebih merata karena bukan mentransfer panas dari luar tetapi membangkitkan
panas dari dalam bahan tersebut (Saleh dkk., 2005
dan Salas dkk., 2010). Selain itu waktu pemanasan
dengan gelombang
mikro jauh lebih
cepat jika dibandingkan
dengan waktu reaksi pemanasan konvensional (Widoretno dkk., 2016).
Teknik MAE memiliki banyak kelebihan dibandingkan metode lain untuk ekstraksi
senyawa seperti senyawa bioaktif yang menghemat waktu pemrosesan dan pelarut,
tingkat ekstraksi yang lebih tinggi, produk yang lebih baik dengan biaya lebih
rendah dan penggunaan energi yang berkurang (Sanchez-Aldana
dkk., 2013; Hao dkk., 2002; Yan dkk., 2010). Secara umum, kinerja MAE tergantung pada tingkat operasional pemanasan,
misalnya pemanas daya konstan, pemanas daya intermiten dan pemanasan suhu
konstan. Daya konstan MAE memberikan pemanasan terus-menerus pada daya khusus
untuk sistem ekstraksi untuk mengekstrak senyawa aktif termal-stabil, daya
intermiten MAE memberikan pemanasan microwave
pada daya tertentu yang efisien dalam mengekstraksi senyawa termal-labil.
Sementara suhu konstan MAE mengontrol suhu ekstraksi yang memungkinkan ekstraksi
senyawa aktif (Chan dkk., 2015).
Teknik ekstraksi microwave,
menjadi sangat populer untuk ekstraksi polifenol dibandingkan dengan ekstraksi
pelarut konvensional. Peningkatan proses ekstraksi terletak pada kenyataan
bahwa baik pelarut atau sampel dipanaskan dalam interaksi langsung dengan radiasi elektromagnetik.
Interaksi langsung dengan radiasi elektromagnetik memungkinkan hingga 20-30
kali pemanasan lebih cepat daripada sistem konvensional. Hal ini memungkinkan
menghemat waktu sehingga ekstraksi dapat diselesaikan dalam beberapa
menit (Švarc-Gajic dkk., 2012).
Parameter operasi yang mempengaruhi seperti pelarut, kekuatan iradiasi microwave dan waktu ekstraksi
dioptimalkan menggunakan metode optimasi statistik (Ballard dkk.,
2010; Chen dkk., 2012 dan Prakash dkk., 2013). Sistem microwave
berbeda bila diterapkan dengan kondisi operasi sama yang
memberikan efisiensi pemanasan yang
berbeda dalam proses ekstraksi. Apalagi, kondisi optimum dilaporkan MAE tidak
dapat diterapkan untuk ekstraksi skala yang lebih besar karena
kekuatan microwave optimal hanya
untuk skala tertentu dari ekstraksi.
Ekstraksi mikrowave telah berhasil digunakan untuk ekstraksi polifenol dari
berbagai bahan tanaman (Spigno dan De Faveri, 2009; Wijngaard dkk., 2012 dan Wang dkk., 2008). Secara umum, manfaatnya diperoleh dalam
ekstraksi ini yaitu waktu ekstraksi cepat dan penggunaan pelarut sedikit
(Figueredo dkk., 2012). Namun demikian, ekstraksi mikrowave bahan alam dengan menggunakan
metanol-air, aseton-air, etil asetat-air dan campuran etanol-air telah
diterapkan sebelumnya untuk ekstraksi total polifenol (Proestos dan Komaitis,
2008 dan Rodríguez-Rojo dkk., 2012). Beberapa
penelitian dilaporkan bahwa
optimalisasi dan efisiensi ekstraksi microwave untuk masing-masing kelas polifenol diantaranya
polifenol, flavonoid, monomer anthocyanin dan anthocyanin.
Prosedur ekstraksi microwave telah dioptimalkan untuk ekstraksi beberapa golongan
senyawa fenolik dari sampel untuk mencapai efisiensi tertinggi (Li dkk., 2012 dan Chan dkk., 2013).
Comments
Post a Comment