EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI SELULOSA DARI LIMBAH TANDA KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS)

Download Dokumen

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja, dan kotoran ternak. Selain digunakan untuk bahan pangan, pakan ternak, minyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, energi (bahan bakar). Biomassa yang umum digunakan adalah yang memiliki nilai ekonomis rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk primernya. Biomassa merupakan sumber energi terbarukan dan berkelanjutan memiliki potensi yang sangat besar 146,7 juta ton per tahun. Sementara potensi Biomassa yang berasal dari sampah untuk tahun 2020 diperkirakan sebanyak 53,7 juta ton. Peningkatan penggunaan biomassa dari limbah dapat mengurangi tingkat polusi di dunia dengan mengkonversi sampah menjadi sumber energi yang berguna. Penggunaan biomassa merupakan pilihan yang lebih ramah lingkungan bila dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar fosil, sekaligus dapat membantu mengurangi tingkat total emisi gas rumah kaca.Sumber biomassa dapat ditemukan di semua negara di dunia. Banyak teknologi berbeda yang dapat digunakan untuk mengkonversi energy biomassa menjadi bentuk energi yang berguna (Parinduri, 2020).

 Data BPS tahun 2015, produksi kelapa sawit di Indonesia mencapai 31,07 juta ton per tahun. Sebesar 23% dari total produksi kelapa sawit tersebut merupakan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Hanya 10% dari TKKS yang sudah dimanfaatkan untuk bahan bakar boiler dan kompos padahal banyak sekali produk yang bisa dibuat dari hasil pengolahan TKKS. Salah satu pemanfaatan TKKS adalah dengan mengekstraksi selulosa sebagai bahan baku bioplastik ramah lingkungan. Hal ini akan membantu permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kelapa sawit dan pemakaian plastik sudah sangat banyak. Kandungan selulosa dalam TKKS sebesar 30-40% berat (Dewanti, 2018). Pada perkebunan kelapa sawit salah satu bahan pupuk organik yang ketersediaannya masih banyak dan dapat diharapkan dapat menggantikan peran pupuk anorganik adalah tandan kosong kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai kompos. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat yang dihasilkan dari proses pengolahan kelapa sawit, TKKS dengan jumlah yang banyak memiliki potensi untuk dapat dijadikan sebagai kompos serta diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia dari subsoil ultisol (Adiguna, 2020)

Tandan kosong kelapa sawit memiliki komposisi kimia berupa selulosa 45,95%, hemiselulosa 22,84%, lignin 16,49%, minyak 2,41% dan abu 1,23%. Selama ini pemanfaatan limbah tandan kosong kelapa sawit sangat terbatas yaitu sebagai sumber kalium setelah proses pembakaran (Adiguna, 2020). Salah satu bahan yang sangat penting dari TKKS yang bisa dimanfaatkan menjadi produk lain yang bernilai tinggi adalah selulosa. Selulosa merupakan polimer alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kain, bioetanol, dan bioplastik dengan mensintesisnya menjadi selulosa asetat. Selulosa yang terkandung dalam TKKS adalah 38,76% (Bahmid, 2014).

Kromatografi cair berperforma tinggi/high performance liquid chromatography (HPLC) merupakan salah satu teknik kromatografi untuk zat cair yang biasanya disertai dengan tekanan tinggi. Seperti kromatografi pada umumnya, HPLC berusaha untuk memisahkan molekul berdasarkan afinitasnya terhadap zat padat tertentu. Cairan yang akan dipisahkan merupakan fase cair dan zat padatnya merupakan fase diam (stasioner). Teknik ini sangat berguna untuk memisakan beberapa senyawa sekaligus karena setiap senyawa mempunyai afinitas selektif antara fase diam tertentu dan fase gerak tertentu. Dengan bantuan detektor serta integrator kita akan mendapatkan kromatogram. Kromatogram memuat waktu tambat serta tinggi puncak suatu senyawa. Berdasarkan uraian diatas, maka disusun makalah tentang ekstraksi dan identifikasi selulosa dalam Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah

1.     Bagaimana metode ektraksi selulosa dari TKKS?

2.     Apakah komposisi hasil ektraksi selulosa dari TKKS?

1.3. Tujuan

Tujuan dalam makalah ini adalah

3.     Mempelajari metode ektraksi selulosa dari TKKS?

4.     Mengetahui kandungan komposisi hasil ektraksi selulosa dari TKKS?


BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1.   Ekstraksi Selolula TKKS

Selulosa adalah komponen utama dari limbah biomassa dan pemanfaatan yang efisien dari komponen bernilai tambah dan yang tinggi di masa depan untuk pemanfaatan limbah biomassa. Salah satu sumber selulosa adalah Tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS merupakan limbah terbesar dihasilkan oleh industri Crude Palm Oil (CPO) dan perkebunan kelapa sawit yang mencapai 30-35% dari berat tandan buah segar setiap kali panen (Hambali et al., 2007). Kandungan utama TKKS adalah lignoselulosa yang terdiri dari selulosa (44,2%), hemiselulosa (33,5%) dan lignin (20,4%) (Hamzah et al., 2011). TKKS menunjukkan kandungan selulosa yang tinggi, yang menjadikan biomassa ini sebagai bahan baku yang menjanjikan untuk produk biomaterial dan biofuel (Malucelli et al., 2017).

Secara umum, metode ekstraksi selulosa dari bahan limbah biomassa dapat diklasifikasikan dalam empat kategori (Gambar 1.) diantaranya fisik, kimia, biologi dan metode gabungan dari salah satu dari dua metode bersama-sama untuk keuntungan yang saling melengkapi, di mana sangat sedikit upaya yang dilakukan pada metode biologis untuk mengekstrak selulosa dari limbah biomassa karena pertimbangan ekonomi atau efisiensi dalam pemrosesan (Yu et al., 2021).

Gambar 1. Metode ekstraksi selulosa dari bahan limbah biomassa

Metode kimia adalah metode ekstraksi yang paling banyak digunakan untuk mendapatkan nanoselulosa dari biomassa (Gambar 1). Moriana et al. (2016), memperoleh cellulose nanocrystals (CNCs) dari residu penebangan hutan kayu lunak (logging residues) seperti serpihan kayu, cabang dan jarum pinus dengan alkaline treatment (4,5 wt% NaOH, 80 °C selama 2 jam), bleaching treatment dan hidrolisis asam (65 wt% asam sulfat, 45 °C selama 40 menit). CNCs memiliki rasio aspek tinggi (> 10) dan kristalinitas sehingga berpotensi besar untuk aplikasi dalam penguatan material komposit.

Tahapan awal dalam ekstraksi selulosa TKKS yaitu preparasi sampel biomassa. TKKS dikumpulkan dan dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran. TKKS dipotong-potong dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama 8-10 hari. TKKS bebas kelembaban secara terpisah dihancurkan dan digiling menjadi bubuk halus untuk meningkatkan luas permukaan dan lebih efisien. TKKS dihaluskan dengan partikel saringan 100 mesh (Kumar et al., 2020). Tahapan kedua yaitu ekstraksi soxhlet bertujuan untuk menghilangkan lilin, asam lemak, zat fenolik dan klorofil. TKKS sebanyak 15 g ditambahkan campuran benzena dan metanol 2:1 (v/v) kemudian soxhletasi selama 6 jam (Malucelli et al., 2017).

Tahapan ketiga yaitu ektraksi selulosa TKKS bertujuan untuk pemisahan selulosa dan lignin pada biomassa dengan menggabungkan metode kimia alkali dengan microwave (MW). Metode kimia alkali memiliki kelemahan yaitu waktu reaksi yang lama, hasil yang rendah dan energi yang tinggi serta konsumsi bahan kimia yang korosif. MW adalah metode yang sangat baik untuk membantu menghasilkan hasil yang tinggi dan laju reaksi yang cepat dalam proses ektraksi. Oleh karena itu, metode ekstraksi gelombang mikro telah dinyatakan sebagai metode ekstraksi kimia hijau yang ramah lingkungan. Efek gelombang mikro dalam ekstraksi selulosa memainkan peran penting dalam morfologi selulosa yang dihasilkan (Ma et al., 2012).

Ektraksi selulosa TKKS merupakan metode dari modifikasi dalam penelitian Ganguly et al., (2020), (Punnadiyil et al., 2016) dan Sari et al., (2018). TKKS halus ditimbang sebanyak 25 g dan dicampurkan 750 mL Natrium hidroksida (NaOH) 0,5 M kemudian dipanaskan dalam microwave (MW) pada daya 300 watt (suhu 90 °C) selama 1 jam. Bubur hitam pekat yang diperoleh disaring dan dicuci beberapa kali dengan air suling kemudian dikeringkan.

Residu direfluks dengan campuran yang mengandung larutan HNO3 20% dalam pelarut etanol. Perlakuan ini dilakukan dua-tiga kali berturut-turut hingga berubah warna dari coklat menjadi kuning. Campuran kemudian disaring dan dicuci dengan air suling dingin sampai larutan menjadi netral. Residu kuning kemudian diputihkan dengan Natrium sulfit (Na2SO3) 10% untuk untuk mendapatkan selulosa berwarna putih pudar. Selulosa yang diperoleh dalam proses tersebut dikeringkan pada suhu 100 °C selama 4-5 jam untuk mendapatkan serbuk selulosa yang halus.

2.1.  Analisis Komposisi dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC)

 

Analisis komposisi monosakarida dari selulosa dari TKKS dilakukan dengan mengolah 5 mg selulosa dicampurkan dalam 1 mL asam tri-fluro-asetat (TFA) 2 M dalam tabung Eppendorf 1,5 mL dan memanaskan dalam penangas air mendidih selama 3 jam. Selulosa terhidrolisis disimpan dalam oven pada 80 °C selama 12 jam untuk menghilangkan sisa TFA. Sampel selulosa terhidrolisis TFA kering dicampur dalam 500 mL Milli-Q water dan disaring (ukuran pori: 0,22 µm).

Kemudian sampel dianalisis dengan HPLC (UFLC, Prominence, Shimadzu, Jepang) menggunakan detektor RI dengan kolom pelindung (50 × 7.8 mm), diikuti dengan kolom pemisahan yang terhubung Rezex ROA (H+) (300 × 7,8 mm). Elusi dilakukan dengan larutan H2SO4 0,005 N sebagai fase gerak pada 70 °C pada laju alir 0,5 mL/menit selama 90 menit waktu per sampel. Masing-masing 1 mg/mL glukosa, xilosa, arabinosa atau asam glukuronat digunakan sebagai standar untuk penentuan komposisi (Khaire et al., 2021).



Analisis komposisi monosakarida selulosa yang dipisahkan oleh HPLC dikaji dari metode ekstraksi dengan biomassa ampas tebu menunjukkan adanya D-glukosa 91%, D-xylose 7,5% dan residu D-arabinosa 1,5% (Khaire et al., 2021). Analisis komposisi monosakarida selulosa dari biomassa TKKS dengan metode ektraksi enzimatik menunjukkan adanya D-glukosa 30.9%, D-xylose 18.2% dan residu D-arabinosa 2.46% (Rosli et al., 2017). Sedangkan penelitian Hamzah et al. (2011), hasil analisis HPLC menunjukkan adanya D-glukosa 36,1%, D-xylose 22,4% dan residu D-arabinosa 2,7%

 

KESIMPULAN

Berdasarkan dari pembahasan dalam makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa ektraksi selulosa pada biomassa dengan menggabungkan metode kimia alkali dengan microwave (MW). Metode kimia alkali memiliki kelemahan yaitu waktu reaksi yang lama, hasil yang rendah dan energi yang tinggi serta konsumsi bahan kimia yang korosif. MW adalah metode yang sangat baik untuk membantu menghasilkan hasil yang tinggi dan laju reaksi yang cepat dalam proses ektraksi. Hasil analisis HPLC menunjukkan adanya D-glukosa, D-xylose dan residu D-arabinosa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ganguly, P., Sengupta, S., Das, P., Bhowal, A., 2020. Valorization of food waste: Extraction of cellulose, lignin and their application in energy use and water treatment. Fuel 280, 118581. doi: 10.1016/j.fuel.2020.118581

Hambali, E., Siti, M., Armansyah, H.T., Abdul, W.P., Roy, H., 2007. Teknologi Bioenergi. Agromedia Pustaka, Jakarta Selatan.

Hamzah, F., Idris, A., Shuan, T.K., 2011. Preliminary study on enzymatic hydrolysis of treated oil palm (Elaeis) empty fruit bunches fibre (EFB) by using combination of cellulase and β 1-4 glucosidase. Biomass and Bioenergy 35, 1055–1059. doi: 10.1016/j.biombioe.2010.11.020

Khaire, K.C., Moholkar, V.S., Goyal, A., 2021. Separation and characterization of cellulose from sugarcane tops and its saccharification by recombinant cellulolytic enzymes. Prep. Biochem. Biotechnol. 51, 811–820. doi: 10.1080/10826068.2020.1861011

Kumar, A., Singh Negi, Y., Choudhary, V., Kant Bhardwaj, N., 2020. Characterization of Cellulose Nanocrystals Produced by Acid-Hydrolysis from Sugarcane Bagasse as Agro-Waste. J. Mater. Phys. Chem. 2, 1–8. doi: 10.12691/jmpc-2-1-1

Ma, M.G., Fu, L.H., Sun, R.C., Jia, N., 2012. Compared study on the cellulose/CaCO3 composites via microwave-assisted method using different cellulose types. Carbohydr. Polym. 90, 309–315. doi: 10.1016/j.carbpol.2012.05.043

Malucelli, L.C., Lacerda, L.G., Dziedzic, M., da Silva Carvalho Filho, M.A., 2017. Preparation, properties and future perspectives of nanocrystals from agro-industrial residues: a review of recent research. Rev. Environ. Sci. Biotechnol. 16, 131–145. doi: 10.1007/s11157-017-9423-4

Moriana, R., Vilaplana, F., Ek, M., 2016. Cellulose Nanocrystals from Forest Residues as Reinforcing Agents for Composites: A Study from Macro- to Nano-Dimensions. Carbohydr. Polym. 139, 139–149. doi: 10.1016/j.carbpol.2015.12.020

Punnadiyil, K.R., P, S.M., Purushothaman, E., 2016. Crystallography: Special Emphasis on Applications in Chemistry Isolation of microcrystalline and nano cellulose from peanut shells. J. Chem. Pharm. Sci. 16, 12–16.

Rosli, N.S., Harun, S., Jahim, J.M., Othaman, R., 2017. Pencirian kimia dan fizikal bagi tandan kosong buah kelapa sawit. Malaysian J. Anal. Sci. 21, 188–196. doi: 10.17576/mjas-2017-2101-22

Sari, P.D., A., P.W., D, H., 2018. Delignifikasi Bonggol Jagung dengan Metode Microwave Alkali. Jurnal-Jurnal Pertan. AGRIKA 1, 164–172.

Yu, S., Sun, J., Shi, Y., Wang, Q., Wu, J., Liu, J., 2021. Nanocellulose from various biomass wastes: Its preparation and potential usages towards the high value-added products. Environ. Sci. Ecotechnology 5, 100077. doi: 10.1016/j.ese.2020.100077

Comments